Ragam
Bupati Bandung Akan Perjuangkan Kepemilikan Lahan PPTKH dan Perkebunan yang Ditempati Ratusan Rumah di Kertasari
- Jumat, 6 Februari 2026 | 12:07 WIB
| Selasa, 26 Mei 2020 | 18:00 WIB
DALAM perpindahan, peralihan, pergantian, apalagi secara serempak dan menyeluruh, selalu terselip ruang aneh. Ruang itu mutlak harus ada dan butuh manajemen. Jaya Suprana memberi makna sangat penting semua jeda –ruang kosong yang terselip di antara pergantian lagu. Betapa kacaunya kuping kita bila lagu satu ke lagu berikutnya tanpa ada jeda, space transisi sebagai pemisahnya. Sinyal pergantian sekaligus penyambung dan pengantar.
Yang sedang berproses untuk berganti sekarang adalah zaman. Era normal lama ke era normal baru. Hidup di masa transisi, dari normal lama ke normal baru, akan mendapat dua tekanan: tarikan ke belakang dan dorongan ke depan.
Segala kenangan masa lalu mengajak menengok ke belakang. Kebutuhan dan keinginan-keinginan mendorong untuk melangkah ke depan. Terlalu banyak menengok ke belakang atau sebaliknya buru-buru melangkah, sama-sama berisiko. Menjaga keseimbangan adalah pilihannya.
Di saat semua sama-sama pontang-panting, yang tidak oleng sajalah yang utuh kesadarannya, merasakan bahwa ini sedang ada perpindahan besar-besaran. Jaga stamina, terus cari ide, pasang kuda-kuda.
Asal tidak betul-betul tewas, tersungkur pun sebenarnya tetap bisa ikut dalam arus pergantian zaman. Namanya terseret. Kemungkinan besar babak belur.
’’Kok soro nemen ngene, Rek? Urip zaman opo iki…?’’ kata orang Suroboyo.
’’Hehehe… New Normal, c*k!’’
Watak transisi, di mana pun, zaman apa pun, sama: selalu ingin cepat dan cenderung terburu-buru. Tragedi 65, tragedi Semanggi, tragedi Tiananmen, mengingatkan bahwa hasrat selalu ingin sesegera mungkin meninggalkan yang lama –karena sudah tak tahan, terpaksa, atau sudah ’’mupeng’’ dengan yang baru. Kegagalan manajemen masa transisi-lah yang membuat sebuah peralihan menjadi mahal ongkosnya.
Revolusioner-nya Bung Karno, kekaleman Bung Hatta, penting untuk dihadirkan bareng. Gabungan duo proklamator itulah yang menciptakan ambience process menuju Pegangsaan, pertanda dimulainya era Indonesia merdeka, jauh dari ingar-bingar yang ugal-ugalan. Bayangkan kalau Soekarno dan Amien Rais tidak dipisahkan zaman, keduanya berduet…
Cara yang fun, soft, ada lucu-lucunya, ada jogetnya, syukur ada sawerannya, adalah pilihan paling rendah biaya untuk melalui masa transisi. Lebih-lebih transisi yang dibarengi berbagai krisis.
Kita bersyukur punya The Godfather of Broken Heart, maestro campursari dari Ngawi. Warisan lagu-lagunya merangsang goyang, bahkan di saat sedang patah hati sekalipun. Kalau cuma hidup susah karena lapar, sebenarnya bukan hal serius-serius banget. Limit terburuk tingkat kesusahan hidup masyarakat kita sekarang adalah: kalau badan sudah tidak kuat lagi diajak joget dan goyang.
*
PSBB jilid ke-2 untuk wilayah Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo sudah selesai. Sudah keluar keputusan terbaru: Diperpanjang lagi hingga 8 Juni.
Ada apa dengan 8 Juni?
Pandemi ini sekaligus masa transisi memasuki New Normal. Kalau grafik persebaran virus terus merangkak naik, kurva tingkat kesulitan hidup pun akan meninggi.
Dengan segenap kesadaran, kita semua harus sejalan dengan segala yang diupayakan Bu Gubernur, Bu Wali Kota, Pak Bupati. Kalau tren tak segera positif, betapa sulitnya beliau-beliau menyusun kalimat pengumuman pada tanggal 8 Juni nanti.
PSBB jilid ke-3 dirasa masih oke.
Jilid ke-4, 5, 6…?
Mana tahaaannn… (*)
*) Leak Kustiyo, Direktur utama Jawa Pos
Bagikan melalui