foto

Beberapa potongan video dan foto para kepala desa di kecamatan Ciparay yang diterima mediakasasi/Istimewa

Mediakasasi.com | Kabupaten Bandung-- Disaat anggaran desa belum cair baik dari APBD maupun APBN para kepala desa di Kabupaten Bandungkerapmengeluh dikarenakan tidak bisa menjalankan program yang selama ini sudah masuk program prioritas desa.

Namun, saat anggaran sudah cair ke rekening desa di Kecamatan Ciparay mengadakan ‘hiling’ alias piknik bersama istri kepala desa se-kecamatan Ciparay.

Entah apa yang dicari di Yogyakarta padahal ekonomi di Pemkab Bandung saat ini sedang mengalami devisit dan daya beli masyarakat-pun sedang mengalami kesulitan.

Pelesiran para kepala desa di Ciparay itu ada video dan fotonya beredar dikalangan penggiat sosial dan diterima redaksi mediakasasi.

Foto dan video yang di terima mediakasasi memperlihatkan para kepala desa bersama istri tampak ‘bahagia’ dan saling tersenyum lepas tanpa beban. Asyik jalan-jalan menikmati keindahan Kota dengan julukan Kota Perjuangan.

Ketua Umum Komite Penjegahan Korupsi (KPK) Jabar, Piar Pratama, SH mengecam dan mengkritik perilaku para kepala desa tersebut. Piar menyatakan para kepala desa itu tidak memiliki moral lantaran tidak memiliki empati sedikitpun terhadap warganya yang saat ini tengah bertarung melawan daya beli dan ekonomi sulit.

“Kepala Dinas PMD Kabupaten Bandung, yang di pimpin H. Tata Irawan Subandi harus menjadi catatan bagi kepala desa di kecamatan Ciparay. Apakah pelaporan anggaran desa yang dikelolanya sudah benar dan sudah dimonev secara benar dan objektif,” ucap Piar, Sabtu (17/5/2025).

Seharusnya, lanjut Piar, setelah anggaran turun, para kepala desa tersebut mulai bekerja dan berkordinasi dengan BPD untuk melaksanakan program desa, bukan malah jalan-jalan ke Yogyakarta.

“Ngapain dia jalan-jalan ke Yogyakarta, ketawa-ketawa saling ‘cipika cipiki’ di sisi lain masyarakatnya ada yang sedang prihatin,” katanya.

Tak peka kondisi ekonomi sulit

Para kepala desa di Ciparay ini contoh tokoh publik atau figur publik yang sangat tidak bermoral, dan tidak memiliki perasaan yang peka.

Aksi para kepala desa tersebut, membuat penggiat anti rasuah geleng-geleng kepala.

Para penggiat sosial dan anti rasuah mengaku kehabisan kata-kata dan bingung untuk mengomentari sikap para kepala desa yang tidak berempati kepada masyarakatnya.

Lebih lanjut, para penggiat sosial dan anti rasuah meminta para kepala desa untuk bisa lebih memahami nasib masyarakatnya.

Bagaimanapun, solidaritas sosial harus dikedepankan dalam menghadapi ekonomi yang serba sulit.

“Mereka kan orang pintar, yang pastinya mereka mengerti apa itu solidaritas kemanusiaan dan sosial kan? tutur Denny Hardiansyah pemuda asal Pacet.

Di satu sisi, Denny mencoba berpikir positif. Apakah para kepala desa tersebut sedang ada pekerjaan atau bisnis yang harus di selesaikan di Yogyakarta ?

“Mungkin mereka ada kerjaan di luar dan kelihatannya bahagia betul mereka di luar. Mudah-mudahan tujuannya sukses,? tandasnya.

Editor : Gindo

Bagikan melalui