| Minggu, 4 Agustus 2024 | 08:51 WIB
Oleh : Yopi, SH
(Penggiat Kebijakan Publik)
Banyaknya kebijakan publik yang tidak berpihak kepada kepentingan kebutuhan dasar rakyat diakibatkan oleh sistem demokrasi langsung yang memberi peluang kepada para kapitalis untuk berinventasi dalam kontestasi akibat mahalnya biaya suksesi.
Sehingga orang tolol dan bodoh sekalipun bisa terpilih menjadi pemimpin oleh karena kemampuan dukungan secara financial dengan ditunjang methoda pemenangan dengan cara tipu tipu dan iming iming serta panggung keagamaanpun dilibatkan untuk dijadikan pembenaran.
Hal inilah yang dikhawatirkan oleh tokoh tokoh pemikir bangsa seperti Tan Malaka dan Buya Hamka dan tokoh pemikir bangsa lainnya.
Saatnya para penggiat pergerakan melakukan kontrol sosial agar praktek praktek kedustaan ini tidak menjadi hal kebiasaan yang diulang ulang sehingga menjadi tradisi yang menyimpang dari nilai nilai sosial, budaya dan agama.
Dalam setiap kontestasi pemilu apabila skema pasangan kandidatnya hanya dua pasangan (head to head) itu menandakan bahwa semangat berkontestasi secara baik dan benar akan jauh dari harapan, karena yang dikejarnya adalah perebutan kekuasaan belaka karena dipastikan mengesampingkan pilihan gagasan mana yang terbaik dari apa yang menjadi janji pemenangan dari masing masing kontestan kandidat.
Patut diduga dalam pilkada 2024 di Kabupaten Bandung ini, semua berorientasi pada dendam politik yang pada masing masing pihak kontestan hanya mengenal arti kalah dan menang saja.
Sehingga tidak memperhatikan aspek pendidikan politik yang mampu mendidik masyarakat agar berpartisipasi secara beradab dan berakal sehingga mampu menentukan arah pandangan dan sikap pemimpin terpilih ke depan menjadi satu kesatuan untuk kebersamaan.
Namun sebaliknya pada gilirannya hanya menjadi media saling membegal dan memusnahkan potensi perbedaan saja, padahal dari perbedaan itulah akan melahirkan energi kekuatan untuk saling bahu membahu untuk memperjuangkan nasib masyarakat ke depan.
Harapan dan keinginan dari post spektrum pilkada 2024 Kabupaten Bandung ini, masih adakah semangat rekonsiliasi demi kebersamaan memajukan daerahnya sendiri..?
Bukannya yang menjadi pemenangan menguasai segalanya sekehendak hati dan hanya bisa menumpuk pundi pundi kemenangannya hanya untuk kelompok politiknya sendiri.
Dan bagi yang kalah harus juga diberikan porsi secara proposional dan profesional untuk bisa terus melakukan pengabdian dan dharma bhaktinya, sehingga media pilkada bukanlah seperti rumah jagal untuk membunuh potensi anak daerah yang cinta terhadap daerahnya sendiri.
Wallahu a'lam Bishawab
Medio Agustus'24
Bagikan melalui