foto

Mediakasasi.com, Kota Bandung--

Element Masyarakat yang tergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat Baladhika Adhyaksa Nusantara (LSM BAN) mengapresiasi dan mendukung Kejaksaan Tinggi Jawa Barat (Kejati Jabar) yang telah melakukan Upaya Banding terhadap Terdakwa Herry Wirawan.

Hukuman seumur hidup tidak patut diterima, harus banding agar terdakwa Dihukum mati.

Dalam rilisnya yang diterima mediakasasi.com, Ketua Umum LSM BAN Yunan Buwana menyatakan dukungannya karena Herry Wirawan sudah merusak masa depan para Santriwati.

"Menurut kami sudah sepatutnya perbuatan terdakwa diganjar dengan hukuman mati karena apa yang dilakukannya sangat biadab dan menghancurkan mental, psikis dan masa depan korbannya," tegas Yunan.

Perbuatan Herry Wirawan biadap dan sudah jelas menghancurkan harapan orang tua para korban.

"Betapa pilu dan hancurnya hati para orang tua yang menitipkan anaknya untuk belajar agama namun diperlakukan sangat biadap oleh terdakwa," ujar Yunan.

Sebagaimana telah diberitakan berbagai media online (22-02-2022) lalu,  Kejaksaan Tinggi Jawa Barat (Kejati Jabar) sudah menyatakan sikapnya melakukan upaya banding atas nama terdakwa Herry Wirawan.

Upaya Banding telah disampaikan ke Pengadilan Negeri Bandung Kelas IA Khusus pada hari Senin tanggal 21 Februari 2022 lalu.

Penegasan upaya banding ke Pengadilan Tinggi Bandung Jawa Barat tersebut kembali ditegaskan oleh Kasi Penkum Kejati Jabar.

"Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejati Jabar memutuskan mengambil langkah banding atas vonis hakim PN Bandung terhadap terdakwa pemerkosa belasan santriwati hingga hamil dan melahirkan itu," kata Dodi Gazali Emil, SH., MH saat dikonfirmasi, Selasa (22-02-2022) lalu.

Institusi Kejaksaan konsekwen untuk menegakkan hukum yang berkeadilan dimana hukuman mati itu tepat.

"Dengan melakukan upaya banding, Kejati Jabar konsekwen atas tuntutan yang telah diajukan sebelumnya. Tidak ada pilihan, hukuman mati sudah tepat dan seharusnya dikenakan terhadap Herry Wirawan," jelas Yunan.

Sebelumnya LSM BAN sudah menghimbau agar Kejati Jabar seharusnya langsung menyatakan banding atas Putusan PN Bandung Kelas IA Khusus. Menurut hematnya, anak korban Herry Wirawan itu akan mengalami penderitaan berkepanjangan.

"Akibat perbuatan biadap Herry Wirawan, sungguh sangat sulit membayangkan apa yang akan terjadi pada (anak) korban dan keluarganya di kemudian hari. Sudah jelas trauma itu akan terus membayang sepanjang waktu," ujar Yunan saat ngobrol santai, Rabu (16-02-2022) lalu.

Diakui oleh Ketua Umum LSM BAN, bahwa hukuman apapun yang dikenakan kepada Herry Wirawan tidak akan bisa menyembuhkan trauma para anak korban.

"Hukuman mati sudah tepat dikenakan kepada Herry Wirawan. Setidaknya ada kelegaan para korban akibat persetubuhan yang dilakukan kepada para santriwati nya," kata Yunan.

Kami menghargai dan hormat atas keputusan Hakim namun "Sejujurnya ada rasa kecewa setelah Putusan Pengadilan Negeri Bandung terhadap Herry Wirawan. Sebagai guru dan pimpinan Pondok Pesantren Madani Boarding School Kota Bandung itu memperkosa belasan santriwatinya hingga hamil dan melahirkan, lepas dari hukuman mati dan kebiri.

Tuntutan Jaksa JPU Dr Asep N Mulyana tidak satupun yang dikabulkan Majelis Hakim," tutur Yunan. Sebelumnya Tim JPU yang diketuai Kajati Jabar Dr Asep N Mulyana menuntut Terdakwa Herry Wirawan dengan hukuman mati.

Selain itu Terdakwa juga dituntut beberapa hukuman tambahan yaitu kebiri kimia, membayar denda senilai Rp 500 juta subsider 1 (satu) tahun kurungan, penyebaran identitas, hingga membekukan yayasan dan pondok pesantren yang dikelola oleh Herry Wirawan serta membayar restitusi kepada korban-korbannya sebesar Rp 321,527 juta.

Semua tuntutan yang disusun JPU tidak satupun yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim sebagaimana harapan masyarakat secara luas. ***

Editor : Aripudin